AKU SI ANAK BUNGSU IBU




Semua anak tidak ingin lahir menjadi pribadi yang seperti ku alami saat ini. Semua anak menginginkan kehidupan yang bahagia bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya, yang menjadi teman dan saksi melihat pertumbuhan ku yang kini sudah tumbuh  menjadi gadis remaja. Aku dilahirkan seorang ibu yang kata mereka sangat baik, begitu baik dan murah hati. Aku merupakan anak terakhir dari tujuh orang bersaudara

Yang menjadikan ku lain dari abang dan kakak ku adalah, mereka sempat mengerti dan merasakan seperti apa kebaikan dan kasih sayang dari ibu dan ayah ku, mereka mengenal lebih banyak tentang ibu dan ayah ku, mereka merasakan betapa bahagianya saat-saat bermain bersama dengan kedua orang tua ku. Sementara aku, belum mengerti apa-apa, tidak begitu mengenal ibu dan ayah. Ibu meninggal di saat aku berusia Lima bulan, dan di  susul dengan meninggalnya ayah.
Aku di rawat dan di besarkan oleh om ku (Tulang, sebutan untuk adik laki-laki Ibu, dalam bahasa Batak) hingga saat ini aku sudah tumbuh menjadi  gadis remaja yang manis.
Kisah hidup ku, tidak sebahagia kisah hidup teman-teman ku pada umumnya,  namun hidup ku tidak seburuk yang di pikirkan orang. Walaupun aku tertakdir menjadi si Bungsu yang yatim piatu, aku bisa merasakan kebahagian yang sempurna.

Aku bisa hidup layaknya kehidupan yang enak, dan yang paling penting, aku merasakan apa itu pendidikan. Ini menjadi alasan kuat bagi ku untuk tetap semangat dan semakin bersyukur, bahwasanya Tuhan sangat begitu baik pada ku. Aku tidak tidak focus pada takdir yang ku miliki, aku lebih focus pada mimpi-mimpi ku menjadi anak yang membanggakan kedua orang tua ku yang walaupun aku tidak bisa melihat mereka. Namun satu hal yang ku yakini, mereka melihat, mereka tau dan mereka bangga memiliki anak perempuan kecil yang hebat seperti aku.
Banyak mimpi-mimpi, harapan serta inginku. Dunia ini begitu luas untuk  menjadi tempat ku menata setiap proses kehidupan untuk masa depan ku. Aku merasa bahwa tak ada perbedaan ku dengan teman-temanku pada umumnya. Kami sama-sama punya hak, kesempatan untuk menjadi seperti yang kami inginkan.

Saat ini aku duduk di bangku SMP di salah satu sekolah yang lumayan bergengsi di Kota Medan bagian barat, Marelan. Hidup dan di hidupi oleh om ku dan istrinya yang aku panggil dengan sebutan Mama. Mengapa ku panggil mama, karena kasih dan sayangnya sama dengan mama-mama lainnya.  Aku juga tinggal bersama abang ku di rumah om ku. Hidup dengan cinta dari mereka itu sudah cukup bagi ku untuk mengangkat pujian syukur pada Sang Khalik

Untuk kalian yang punya nasib seperti aku (yatim piatu dari kecil), tidak perlu mengeluh, dan menuntut dengan keadaaan ini. Kalian harus percaya bahwa Tuhan lebih berpihak kepada kita, apabila kita tetap bangkit dan semangat. Berdoa dan berusaha mengubah nasib dan kejar impian-impian kita.
Tetap semangat,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dang Adong Naso Tarpatupa Debata

Setia itu Banyak Bonusnya

Rasa Kuatir memperpendek Umur