SANGGE-SANGGE dan REALITAS KEHIDUPAN (ORANG BATAK)

Sangge-sangge adalah tanaman yang tidak asing di kalangan orang Batak, walaupun sebenarnya tanaman ini tidak memiliki makma filisofi dengan kehidupan orang Batak. tak juga tanaman mahal, atau tanaman favorit dan memang tak semahal rekannya ANDALIMAN yang mendunia.walau akhir-akhir  ini, jenis tanaman yang kurang favorit ini  terangkat namanya, berkat kisah seorang Boru Batak yang sedang viral di media sosial.

singkat ceritanya, seorang mertua menyebut atau mengistilahkan bahwa emas yang di kenakan oleh calon menantunya seukuran atau setipis daun sangge-sangge, sehingga muncullah berbagai macam kritikan bahkan juga cacian kepada si calon mertua, walau tak sedikit juga yang mengkritik calon menantu, mengapa mempublish dengan vulgar hal-hal pribadi di media sosial / ruang publik.
kalau boleh jujur, orang Batak memang sangat menjunjung tinggi yang namanya status sosial / kehormatan (Hasangapon) walau ada dua lagi yang menjadi tingkat pencapaian yaitu Hamoraon (kekayaan),  dan Hagabeon (memiiki keturunan). Orang Batak rela bersakit-sakit di kampung demi menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi demi sebuah Gelar dan Pendidikan, mulai dari D3, S1 bahkan sampai S yang sekian. Banyak dari mereka yang berprofesi  jadi  Pengacara, Tentara dan Polisi. ketiga profesi itu adalah wadah favorit bagi orang Batak. Begitu bangganya seorang orang tua kalau anaknya berprofesi sebagai TNI, Polisi, lalu mendapat menantu yang dapat mengimbanginya, Bidan misalnya, atau bahkan seorang Dokter, sungguh luar biasa hati  orang tuanya, mengangkat status sosialnya.

Orang Batak sering mengangkat status sosial menjadi ukuran keberhasilan, bahkan menjadikan yang utama. persoalan karakter sering di anak tirikan bahkan terlewatkan walau tak bisa digeneralisir. meskipun kekayaan sejatinya masih bisa kita defenisikan dalam beberpa makna ( kaya hati, kaya pemikiran, dan lain sebagainya).
dalam menentukan kelayakan calon menantu misalnya,  orang tua cenderung menyandingkan atau membandingkan anaknya dengan si calon menantu dari aspek Materi, profesi, ataupun kesuksesan dalam hal materi.  orang tua sangat berperan aktif dalam hal memilih pasangan hidup anaknya. sehingga si anak menjadi subyek yang kurang mandiri dalam menentukan pilihannya. apalagi menentukan pasangan hidup yang kelak akan mendapinginya seumur hidup.

Hal ini tentu tidak terlepas dari Tiga aspek yang hendak di capai oleh orang tua
( Hamoraon, Hagabeon, terlebih Hasangapon) dan juga mengingat perjuangan orang tua dalam hal mencapi cita-citanya kepada anaknya.
si orang tua tidak ingin anaknya  berkekurangan dari segi materi, apalagi  menderita sesudah menikah. orang tua selalu menganggap kalau tidak bisa mendapat yang lebih (materi) setidaknya sama. sehingga keluarga bisa saling bertemu.
Pola atau cara pandang seperti ini sebenarnya sebuah kesesatan berpikir. Menempatkan anak seperti pion yang tidak bisa berbuat apa-apa. Adu argument atau memberi pendapat akan melawan orang tua. selalu menganggap anak tidak punya pengalaman apa-apa., terkhusunya dalam hal memilih pasangan hidupnya. Padahal menjalaninya  ke depan adalah anaknya, bukan orang tuanya. Anda yang memilhnya, saya yang menjalaninya, berat bukan????
Hal ini sudah menjadi hal yang umum terjadi di kalangan orang Batak, bukan hla yang langka lagi. Hal yang menimpa gadis Batak boru Regar ini bukanlah kasus yang pertama terjadi, hanya saja tidak terekpos, karena masih menganggap hal ini adalah persoalan pribadi. kurang tabuh di publish di ranah Public. Dan tentunya persoalan ini tidak  terlepas dari campur tangan orang tua yang melampaui batas dan wewenangnya sebagai orang tua. Sikap superior terhadap pihak lain.

Masih banyak persoalan- persoalan klasik lainnya yang  masih sering terjadi yang menyebabkan gagalnya sebuah rencana pernikahan oleh dua insan yang saling mencintai, yang tentunya tidak terlepas dari persoalan materi. dan sikap yang ingin menang sendiri. Merasa rendah diri jika anaknya bersanding dengan orang yang jauh dari harapan pribadinya. Punya mercy dan kolam pribadi.
Padahal apalah artinya emas sebesar rantai, jikalau  kita tak punya hati.

Persoalan ini memang tak bisa digeneralisir terjadi pada semua orang Batak. Tapi hal ini sebuah titik lemah yang sering terjadi  dan harus segera di benahi. anda-anda yang komentarnya paling pedas, bahkan mencaci dan memaki. Hati-hati, jangan-jangan anda juga punya sikap yang sama. selalu meletakkan materi , kehormatan, kekayaan,dan status sosial menjadi hal yang terutama.  melupakan persoalan karakter dan sikap hati.
tidak ada yang salah dengan cita-cita orang Batak,  umtuk mencapai Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon. Asal meletakkan karakter dan sikap hati menjadi hal yang utama dan terutama.

" aku ingin mencintai mu dengan sederhana, seperti kata yang sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, aku  ingin mencintai mu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat di kirim awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Kahlil Gibran)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dang Adong Naso Tarpatupa Debata

Setia itu Banyak Bonusnya

Rasa Kuatir memperpendek Umur